KIAT KHUSYU’ DALAM SHOLAT

Kiat Khusyu’ Dalam Shalat
Ada beberapa kiat khusyu’ dalam shalat yang kerap kali disinggung oleh para
ulama dalam buku-buku mereka khususnya yang berkenaan dengan hukum dan
tata cara shalat. Di antaranya:
2.1 Mengenal Allah, Menghadirkan, Mengagungkan dan
Takut Kepada-Nya.
Orang yang paling khusyu’ dalam shalat adalah orang yang paling bertakwa.
Karena Allah berrman:
6
“(orang-orang yang khusyu’ yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa
mereka akan menemui Rabb mereka, dan bahwa mereka akan
kembali kepada-Nya.” (Al-Baqarah: 46)
Dalam hal itu Allah juga berrman:
“Sesungguhnya yang takut (bertakwa) kepada Allah hanyalah para
ulama.” (Al-Fathir: 28)
Maksudnya, hanya orang-orang yang berilmu yang tergolong bertakwa kepada
Allah. Dan tentunya, hanya merekalah yang digolongkan orang-orang yang
khusyu’ dalam shalatnya. Yang dimaksud dengan ilmu di sini tentunya ilmu
yang shahih yang membuahkan amalan shalih. Karena itu Al-Hasan al-Bashri
pernah menyatakan:
“Ilmu itu ada dua macam: ilmu ungkapan lidah, dan ilmu di sanubari.
Adapun ilmu sanubari, itulah ilmu yang bermanfaat. Sedangkan ilmu
ungkapan lidah, adalah hujah Allah atas manusia.”
Allah berrman:
“Apakah kamu yang lebih beruntung wahai orang-orang musyrik
ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam, dengan
sujud dan berdiri, sedangkan ia takut akan (adzab) akhirat dan
mengharapkan rahmat Rabb-nya…” (Az-Zumar: 9)
2.2 Hendaknya Orang Yang Shalat Menyadari Bahwa
Shalat Adalah Perjumpaan, Sekaligus Komunikasi
Dirinya Dengan Allah
Hal itu telah diisyaratkan dalam hadits Nabi :
“Apabila seorang di antaramu sedang shalat, sesungguhnya dirinya
sedang berkomunikasi kepada Allah. Maka janganlah ia membuang
ludah ke hadapan muka, atau ke arah kanan; tapi hendaknya ia
membuangnya ke-sebelah kiri, atau di bawah telapak kakinya.” 6
6Diriwayatkan oleh Al-Bukhari: 531, Muslim: syarah Nawawi: 5/40-41, An-Nasa’i: 1/163,
11/52-53 dan lain-lain.
7
Imam Nawawi berkata:
“Sabda beliau: “..sesungguhnya ia sedang berkomunikasi kepada
Rabb-nya…”, merupakan isyarat akan pentingnya keiklasan hati,
kehadirannya (dalam shalat) dan pengosongannya dari selain
berdzikir kepada Allah… ” 7
Jika shalat adalah komunikasi seorang hamba kepada Allah, dan itu sudah
disadari oleh orang yang shalat; maka sudah selayaknya hal itu memacu dirinya
untuk bersikap khusyu’. Karena diapun sadar, bahwa segala gerak hatinya,
apalagi gerak tubuh kasarnya, pasti selalu diperhatikan oleh Allah.
2.3 Ikhlash Dalam Melaksanakannya
Keikhlasan adalah ruh aural. Allah berrman:
“Yang menjadikan hidup dan mati, agar Dia menguji kamu; eiapakah
di antara kamu sekalian yang terbaik amalannya.” (al-Mulk: 2)
Berkenaan dengan ayat ini; Fudhail bin Iyyadh pernah menyatakan:
“Yang dimaksudkan dengan yang terbaik amalannya, adalah yang
paling ikhlas dan paling benar.”
Satu amalan yang dianggap pelakunya sudah ikhlas, bila tak mencocoki ajaran
syari’at (benar-pent), tak akan diterima. Demikian juga amalan yang benar
sesuai ketentuan, namun tidak ikhlas karena Allah, juga tak ada gunanya. Ikhlas,
artinya hanya untuk Allah. Benar, artinya menuruti, Sunnah Rasul . 8
Satu amalan yang dilakukan dengan ikhlas, dengan sendirinya akan mudah
meleburkan diri si hamba secara menyeluruh ke dalam ibadah itu sendiri. Karena
tak satupun -menurut keyakinannya- yang pantas menguras perhatian dirinya
selain Allah.
7Lihat Syarhu Shahih Muslim V/40-41.
8Lihat Al-Hilyah – oleh Abu Nu’aim: V111/59, Tafsir al-Baghwi: 1V/369, Zadul Masir:
1V/79.
8
2.4 Mengkonsentrasikan Diri Hanya Untuk Allah
Dalam shahih Muslim diriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda:
“Seandainya seorang hamba (sesudah berwudhu dengan baik) tegak
malakukan shalat, memuji Allah, menyanjung-Nya, mensucikan diri-
Nya yang mana itu memang merupakan hak-Nya, mengkonsen-
trasikan diri hanya rnengingat Allah; maka ia akan keluar dari
shalatnya laksqna bayi yang baru dilahirkan.” 9
Al-Imam Ibnu Katsir menyatakan:
“Sesungguhnya kekhusyu’an dalam shalat itu hanya dapat dicapai
oleh orang yang mengkonsentrasikan hatinya untuk shalat itu,
disibukkan oleh shalat hingga tak mengurus yang lainnya; sehingga
ia lebih mengutamakan shalat dari amalan yang lain.”
2.5 Menghindari Berpalingnya Hati Dan Anggota Tubuh
Dari Shalat
Aisyah pernah bertutur:
“Aku pernah bertanya kepada Rasulullah tentang berpalingnya wajah
di kala shalat, ke arah lain. Beliau menjawab:
“Itu adalah hasil curian setan dari shalat seorang hamba.”
10
Ath-Tayyibi menyatakan:
“Dinamakan dengan “hasil curian”, menunjukkan betapa buruknya
perbuatan itu. karena orang yang shalat itu tengah menghadap Allah,
namun setan mengintai dan mencuri kesempatan. Apabila ia lengah,
setan langsung beraksi!
9Diriwayatkan oleh Muslim: 832 dan Ahmad: IV/ 112-385, dari hadits Amru bin Abasah.
10Diriwayatkan oleh Al-Bukhari: 571, Abu Dawud: 910, Tirmidzi: 589, an-Nasa’i: III/7
dan lain-lain.
9
Imam Ash-Shan’ani menyatakan:
“Sebab dimakruhkannya berpaling tanpa hajat di kala shalat, karena
itu dapat mengurangi kekhusu’an, dan dapat juga menyebabkan
sebagian anggota badan berpaling dari kiblat. Juga karena shalat
itu adalah menghadap Allah. 11
2.6 Merenungi Setiap Gerakan Dan Dzikir-Dzikir Dalam
Shalat
Imam Ibnul Qayyim pernah menyatakan:
“Ada satu hal yang ajaib, yang dapat diperoleh oleh orang yang
merenungi makna-makna Al-Qur’an. Yaitu keajaiban-keajaiban
Asma dan Sifat Allah. Itu terjadi, tatkala orang tadi menuangkan
segala curahan iman dalam hatinya, sehingga ia dapat memahami
bahwa setiap Asma dan Sifat Allah itu memiliki tempat (bukan
dibaca) di setiap gerakan shalat.
Artinya bersesuaian. Tatkala ia tegak berdiri, ia dapat menyadari
ke-Maha Terjagaan Allah, dan apabila ia bertakbir, ia ingat akan
ke-Maha Agung-an Allah.” 12
2.7 Memelihara Tuma’ninah (Ketenangan), Dan Tidak
Terburu-buru Dalam Shalat
Allah berrman:
“Dan apabila kamu sudah tenang, maka dirikanlah shalat…” (An-
Nisa’: 103)
Ayat di atas jelas mengisyaratkan bahwa ketenangan, adalah faktor vital dalam
shalat yang harus diperhatikan. Sehingga “keharusan” shalat bagi seorang
mukmin di saat-saat berperang dengan orang-orang kar, dilakukan kala ia sudah
kembali tenang.
11Lihat Subulu as-Salam I/ 309-310.
12Lihat Ash-Shalah karya Ibnul Qayyim.
10
Hal ini juga terpahami jelas dari hadits tentang “Shalat orang yang asal-
asalan”, yang lalu dikoreksi oleh Nabi. Bahkan orang itu disuruh mengurangi
shalatnya dengan sabda beliau, yang artinya:
“…dan ruku’lah sehingga kamu tuma’ninah dalam ruku’ itu. lalu
tegaklah berdiri sampai kamu tuma’ninah dalam berdiri…dst” 13
2.8 Semangat Dalam Melakukannya
Ini satu hal yang lumrah. Karena tatkala seseorang shalat dengan seenaknya,
malas dan tidak bersemangat; jelas tak akan dapat diharapkan kehusyu’annya.
Oleh sebab itu, dalam hadits yang diceritakan Anas bin Malik disebutkan bahwa
Rasulullah pernah memasuki masjid. Tiba-tiba beliau melihat ada tali yang
direntangkan antara dua tiang masjid tersebut.
Beliau lantas bertanya: “Untuk apa tali ini?” Para shahabat
menjawab: “Itu punyanya Zainab. Kalau dia lagi lemas waktu
shalat, itu dijadikan tempat berpegangan.” maka beliau bersabda,
yang artinya:
“Lepaskan tali itu. setiap kamu itu hendaknya shalat
dengan bersemangat. Kalau dia memang merasa capek,
ya istirahat dulu.” 14
Rasulullah juga pernah bersabda,
“Apabila salah seorang di antara kamu mengantuk, sedangkan ia
tengah melalukan shalat; hendaknya ia tidur terlebih dahulu sehinga
hilang rasa mengantuknya. Karena kalau ia shalat terus, jangan
jangan, ia ingin beristighfar malah mencaci dirinya sendiri” 15
Berkenaan dengan hal itu, Imam An-Nawawi pernah menyatakan:
13Diriwayatkan oleh Al-Bukhari: 757, 793, 6251 dan lain-lain, Muslim: 397, Abu Dawud:
956 dan yang lainnya.
14Diriwayatkan oleh Al-Bukhari: 1150, Muslim: 784 dan lain-lain.
15Diriwayatkan oleh Al-Bukhari: 212, Muslim: 786, Abu Dawud: 1310, At-Tirmidzi:
388, an-Nasa’i: 11215-216, Ibnu Majah: 1370, Ahmad: VI/ 56, 202, 259, ad-Darimi:
1373 dan Malik dalam Al-Muwattha’: 31/118, dari hadits Aisyah.)
11
“Hadits tersebut mengandung anjuran agar seorang hamba itu shalat
dengan konsentrasi penuh, khusyu’, terfokus kirannya kepada Allah
dan dengan semangat. Hadits tersebut juga menyuruh orang yang
mengantuk selagi shalat itu untuk tidur dulu, atau melakukan hal
lain yang dapat menghilangkan rasa kantuknya.” 16
Dalam hal ini, nampak sekali kesalahan sebagian kaum Muslimin yang
menganggap shalat yang khusyu’ itu cenderung harus dilakukan dengan lemah
gemulai dan tak bertenaga. Kalau kita tilik kembali tata cara shalat yang
diajarkan Nabi akan kita dapati bahwa seluruh gerakan shalat secara kolektif
ternyata harus dilakukan dengan bersemangat, bukan dengan melemas-lemaskan
tubuh.
Ambil contoh misalnya: ruku’. Di saat melakukan ruku’, orang yang shalat
diperintahkan untuk meluruskan punggung. Namun disamping itu ia juga
diperintahkan untuk membengkokkan sedikit kedua tangannya. Konsekuensinya,
ia harus melakukan gerakan itu dengan perhatian penuh.
Contoh lain, kala bersujud. Di saat bersujud, seorang mukmin harus
meluruskan punggungnya, meluruskan pahanya, meletakkan dengan tepat tujuh
anggota sujud, menekankan kening ke bumi, bertumpu pada kedua belah telapak
tangan, merapatkan kedua telapak kaki, mengarahkan dengan penuh jari-jari kaki
kearah kiblat, merenggangkan kedua lengan, menjauhkan perut dengan bumi; di
samping juga berdzikir, memanjangkan sujud dan lain-lain. Semuanya itu, tak
syak lagi, hanya bisa dilakukan dengan penuh perhatian dan semangat yang
tinggi.
2.9 Memilih Tempat Shalat Yang Sesuai
Artinya yang memenuhi syarat agar bisa membuat shalat kita menjadi khusyu’.
Tempat tadi paling tidak harus memenuhi beberapa kriteria berikut:
1. Tenang, dan jauh dari keributan yang ditimbulkan -mungkin- oleh
penuh sesaknya orang-orang yang shalat, sehingga membikin suara yang
mangganggu. Sesungguhnya Nabi pernah marah ketika dalam shalat beliau
mendengar suara ribut di belakangnnya.
16Lihat Syarhu an-Nawawi VI/74.
12
2. Hadirnya para malaikat. Artinya, kita menghindari hal-hal/sesuatu yang
meng halangi malaikat (rahmat) untuk memasuki tempat kita menunaikan
shalat. misalnya, lukisan benda bernyawa, atau anjing. Karena Nabi
bersabda:
“Para malaikat tidak akan memasuki satu rumah yang
didalamnya ada lukisan benda bernyawa, atau anjing.” 17
Imam al-Khitabi menjelaskan:
“Yang dimaksud di situ adalah para malaikat yang datang membawa
rahmat dan berkah, bukan para malaikat yang mencatat amalan
seorang hamba. Karena mereka (yang kedua) itu tak pernah berpisah
dengan manusia.” 18
Di antaranya lagi, suara- suara musik. Juga termasuk di antaranya suara bell
lonceng. Karena Nabi pernah bersabda:
“Sesungguhnya lonceng itu adalah seruling-seruling setan.” 19
2.10 Menghindari Segala Yang Menyibukkan Dan
Mengganggu Sahalat
Termasuk dalam lingkaran larangan itu, shalat di kala makanan sudah
dihidangkan; atau shalat di kala sedang menahan buang air kecil atau besar.
Nabi bersabda yang artinya:
Janganlah salah seorang di antara kamu shalat, kala makanan
dihidangkan, atau kala menahan buang air.” 20
17Diriwayatkan oleh al-Bukhari: 4225, 3322, 4002, 5949, Muslim: 2106, Tirmidzi: 2804,
an-Nasa’i: 7/185-186, dan yang lainnya.
18Lihat “Hasyiah as-Sindi `ala Ibnu Majah”: 11/386.
19Diriwayatkan oleh Imam Muslim: 2114, an-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubra: 8812, Abu
Dawud: 2556, Ahmad, dalam Musnadnya: 11/366-3720, al-Baihaqi dalam “as-Sunan
al-Kubra”: 5/253.
20Diriwayatkan oleh Muslim: 560, Ibnu Hibban: 195 dan al-Baghwi dalam “Syarhu as-
Sunnah”: 801.
13
Diriwayatkan dalam hadits al-Bukhari dan Muslim: 558, bahwasanya Ibnu
Umar pernah dihidangi makanan; saat itu adzan berkumandang, namun beliau
terus saja makan sampai selesai. Padahal beliau sudah mendengar suara bacaan
imam. Di antaranya yang lain: shalat di bawah terik matahari. ‘Dalam hal ini
Rasulullah pernah bersabda, yang artinya:
“Apabila matahari bersinar terik / panas sekali, tundalah waktu
shalat hingga cuaca dingin. Karena sesungguhnya panas yang terik
itu berasal dari uap Narr Jahannam.”
Yang lainnya lagi: memandang (ketika shalat) sesuatu yang merusak konsentrasi.
Dari Anas diceritakan, bahwa Aisyah memiliki kain korden berhias yang menutupi
sebagian tembok rumahnya. Maka Rasulullah bersabda:
“Singkirkan korden itu, Sesungguhnya gambar-gambarnya itu terus
terbayang dalam diriku di waktu shalat.” 21
Imam Ash-Shan’ani berkomentar:
“Sesungguhnya hadits itu mengandung larangan terhadap segala hal
yang dapat mengganggu shalat. Baik itu ukiran-ukiran, hiasan-hiasan
dan lain-lain.
2.11 Memanjangkan Bacaan
Memanjangkan bacaan surat dalam shalat, seringkali membantu proses
kekhusyu’an, terutama bagi yang mengerti kandungan makna bacaan itu, atau
bagi orang yang dianugerahi Allah kelembutan jiwa.
Rasulullah pernah ditanya: “Shalat bagaimana yang paling
utama?” Beliau menjawab: “Yang panjang qunut/kekhusu’an nya.”
22
Imam Ibnul `Arabi menyatakan:
“Aku mencoba menyelidiki sumber-sumber kekhusyu’an; lalu kudapati ada
sepuluh perkara:
21HR. Al-Bukhari: 374 dan Ahmad: III/151 – 283.
22HR. Muslim: 756, Tirmidzi: 387, Ibnu Majah: 1421 dan al-Baghwi dalam Syarhu as
Sunnah: 559-560.
14
Ketaa’atan, ibadah, kesinambungan melakukan amal shalih, shalat,
bangun malam, berdiri panjang (dalam shalat), berdoa, ketundukan,
diam tenang, dan tidak menoleh-noleh. Kesemuanya adalah alternatif
yang saling terkait. Namun yang paling berpengaruh adalah:
ketundukan, berdiam diri dan bangun malam.” 23
2.12 Hendaknya kita shalat, seperti shalatnya orang yang
akan bepergian jauh (meninggalkan alam fana)
Rasulullah pernah menegaskan:
“Apabila engkau melakukan shalat, maka shalatlah kamu, dengan
shalatnya orang yang akan meninggalkan alam fana…” 24
Yang dimaksud, agar kita shalat dengan shalatnya orang yang rindu untuk
berjumpa Allah. Bukan shalatnya orang yang gila dunia, yang menjadikan dunia
dan segala kesibukannya sebagai bayangan yang selalu terukir dalam benak.
Masih ada juga beberapa kiat khusyu’lainnya dalam shalat. Cukup dikutip
sebagian di antaranya; sekedar untuk memacu dirt kita agar memperbaiki
kualitas shalat kita.
Menghiasi dan menyempurnakannya dengan kekhusyu’an; sehingga pada
akhirnya, akan menjadikan kita sebagai mukmin yang penuh keberuntungan,
dunia dan akhirat. Lalu, kita berdoa kepada Allah agar kita dijauhkan dari
mereka yang disebutkan dalam rman Allah:
“Maka sungguh satu kecelakan yang besar bagi meraka yang telah
mambatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam
kesesatan yang nyata:” (az-Zumar: 22)
23Lihat “Al-‘Aridhah”.
24Dikeluarkan oleh Ibnu Majah: 4171, Ahmad: 5/412 dan dihasankan oleh al-Albani dalam
“Shahih aljami’ ash-Shaghir”: 1/265.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: